Benteng
pertahanan itu tak sekokoh tampaknya, masih banyak rongga-rongga yang kasat
mata. Masih rapuh – Melody
Akhir-akhir
ini Melody disibukkan dengan curhat colongan dari sepupunya tentang Arif, salah
seorang mahasiswadi kampus ku juga. Entah apa yang terjadi diantara mereka berdua,
yang aku tahu mereka sempat dekat dan tiba-tiba Arif menghilang begitu saja
setelah pertemuan pertama mereka. Ironis sih, tapi tidak se-ironis aku dan … ah
sudahlah. Aku benar-benar telah melupakannya.
Sejak
mengetahui tentang Arif, Angel sedikit kepo tentang Arif. Dan tanpa aku sadari
aku terseret ke dalam romantisme mereka yang telah berakhir. Aku mengagumi
setiap kata yang tertuang dalam tweet-tweet puitis Arif. Dan dentingan gitarnya
yang memainkan instrument dari Yiruma, composer dan pianis favoritku yang
berasal dari korea, negeri dimana pacar ku (read: Lee Hong Ki) belajar di salah
satu perguruan tinggi di sana. Hahaha sepertinya aku mulai sakit jiwa.
Aku
menatap langit-langit kamarku. Menerawang Jauh. Membuka catatan di handphone ku
dan mulai menuangkan imaji-imaji yang terlintas cepat dibenakku. Aku merekam
suara ku sendiri sambil memutar lagu tahu diri, original soundtrack perahu
kertas 2 yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda.
Hai … selamat
bertemu lagi .. aku sudah lama menghindarimu .. sial ku lah …
Suara
Maudy terdengar empuk ditelingaku. Aku menahan emosi yang sedikit mengguncang
suaraku. Aku mulai meng-klik tombol record. Suara ku bergetar.
Bukan aku. tapi
kamu yang menghindariku..
Bukan
menghindar, tetapi menjauhi.. tepatnya mencoba menghilangkan diri dari
hadapanku.
Pernah. Tapi tak
sesakit ini.
Beberapa waktu
tenggelam dalam beberapa tanya tak terjawab.
Yang aku tau
kamu telah membentengi diri dari semua tentang aku.
Akhirnya
berusaha untuk mencoba tahu diri. Aku siapa? Kamu siapa?
Seberapa lama
waktu berdamai dengan kita untuk saling mengenal satu sama lain?
Belum terlambat.
Sebelum kata “kita” berlaku diantara kata aku dan kamu. Berhasil. Suaraku mulai
goyah.
Cuman hanya sekejap.
Seandainya hari
itu aku tidak melihatmu. Melihatmu dengan sengaja menghilangkan diri dari
pandanganku.
Aku berhenti sejenak. Mengingat peristiwa yang terjadi satu bulan yang lalu
itu.
Benteng
pertahanan yang aku bangun selama ini runtuh sekejap.
Bahkan kamu
tidak tau apa yang aku telah perjuangkan untuk membangun benteng itu.
Detik-detik yang berharga. Detik-detik dimana aku hterpaksa yang tenggelam dlm
khayalan tentangmu
Entah naïf atau
bodoh. Terus menerus mencari tahu tentang kamu.. Hingga Akhirnya aku tahu semua
itu percuma
Terima kasih.
Aku cukup tahu diri
atas alasan yang kau lontarkan hari itu.
Mencoba memahami
Dan mencoba untuk
tidak mrnyesali semua semua yang telah berantakan ini.
Menghilang
sajalah. Karena menghindari diri satu sama lain tidak akan pernah berhasil.
Untuk kamu,
semoga suatu saat bisa mendengarkan ini.
Aku
mematikan tombol record. Menghela nafas berat, kemudian menenggelamkan diri
dibalik selimut. Tuhan, bisakah kau
hilangkan sepotong memory tentang laki-laki itu????
**
You
all have changed everything. Be aware, you lure me to do so – Melody
Bentar lagi gue
jemput. Anak-anak ngajakin jalan – Dian
Aku
menghela nafas. Aku sedang tidak dalam kondisi mood yang bagus. Tapi aku harus
ikut. Tidak lama kemudian suara klakson mobil terdengar dari depan rumahku. Aku
melangkahkan kaki malas-malasan.
Ternyata
benar. Mereka terus menerus berceloteh riang tentang liburan mereka yang
menyenangkan. Aku bukan iri. Aku hanya kesal. Bukankah itu telah berakhir ? Hal
yang paling memuakkan adalah berpura-pura untuk baru mengetahui bahwa mereka
telah bersama-sama sejak siang tadi tanpa aku tahu. Padahal aku sudah tahu dari
awal bahwa mereka sebelumnya sudah bersama-sama. Aku muak.
Akhirnya
semua selesai. Tanpa sengaja aku menunjukkan foto Ilham kepada Sam, temanku.
“Sam,
lo pernah liat orang ini nggak?” dan .. BINGO!!!!
“Iya,
pernah ketemu di masjid komplek. Emang kenapa?”
“ntar
gue certain. Waktunya nggak pas kalo sekarang”
**
Akhirnya
Melody menceritakan segalanya kepada Sam yang sepertinya cukup terpercaya.
“lo
jadi orang frontal banget sih, Mel. Terus agresif lagi, hati-hati .. cowok
takut kalo dikejer begitu”
“iya
gue tau kali gue frontal agresif gitu. Tapi seharusnya dia mikir, apa bener gue
suka sama dia? Kaku banget sih itu orang ugh ..”Melody mulai kesal.
“lo
kan cantik, Mel.. pasti banyak lah orang diluar sana yang bakal nyari elo ..
santai lah ..”
Aku
terdiam. Mencoba mencerna kata demi kata.
“iya
kali gue juga masih muda. Gue punya banyak target yang harus gue kejer”
“Nah
itu lo tau, sekarang kenapa lo masih stuck di orang itu ? emang dia mikirin elo
?” kata-kata dari Sam membuyarkan lamunan singkatku. “Mel ..coba lo belajar
sama pingkan. Gimana caranya bikin cowok tertarik sama lo dari kata-kata yang
lo ucapi,” tiba-tiba emosi Melody memuncak. Mencapai titik tertinggi yang pernah
ada .
“Eh
lo boleh ngatain gue frontal agresif segala macem, tapi satu yang musti elo
catet ! gue ga akan BELAJAR dari orang lain hanya untuk narik perhatian orang!
Gue ngga suka cara ngomong lo gini!”Melody bergetar hebat. Air mata-nya mulai
menetes. Melody benar-benar benci dikaitkan dengan orang lain.
“hah
ague cuman canda kali, Mel. Jangan diambil serius. Gue salah ya? Gue minta maaf
… maksud gue nggak gitu .” Sam mulai kikuk. Ia sadar telah salah berbicara.
Tapi terlambat. Tangis Melody pecah.
“Gue
ga peduli lelo Cuma bercanda atau serius, lo boleh ngatain gue frontal! Tapi seharusnya
lo juga mikir, lo pasti ga suka kan disbanding-bandingin ? “
“gue
ga bermaksud ngebandingin elo, ya ampun mel kok jadi nangis gini ?”
“udah
lah gue males. Jangan pernah bahas ini lagi”Melody menyeka air matanya dan
langsung menarik tasnya pergi. Pingkan dan Dian menghampiri Sam dan Melody yang
telah lebih dulu berlari ke parkiran.
“Melody
kenapa, Sam ? Kalian berantem??”Dian mulai menginterogasi.
“Ah
enggak kok, cuman salah paham biasa. Bentaran juga baikan. Biasalah dia kan
moody hehehe yuk cabut”
Jangan salahin
gue kalo ada dinding tipis di antara kita, semuanya udah berubah, guys. Melody memamerkan
evil smirk-nya sambil memutar
Beginning-nya One Ok Rock, band rock jepang favoritnya dan Lee Hong Ki. Melody
tersenyum tipis. Gue bisa sinting mikirin
Hongki segininya. Melody menginjak pedal gas lebih dalam, menerobos hujan
yang menjadi suasana favoritnya.
**