Seseorang pernah mengatakan sesuatu padaku. Ia ingin aku menulis di kertas-kertas yang ia miliki. Sampai akhirnya kertas itu habis dan hingga tinta pulpenku habis mengering. Meski pernah segelintir ragu sempat datang menghampiri, meskipun aku takut kertas itu terlampau licin untuk ku tulis dengan tinta yang ku miliku. Begitu pun pemilik kertas-kertas itu, sempat disinggahi ragu bahwa kertas yang ia miliki terlalu kusam untuk dituliskan.
Hingga akhirnya aku dan pemilik kertas itu berusaha bersama menulis kisah-kisah indah layaknya di dunia dongeng. Bersama-sama menggoreskan mimpi-mimpi penuh asa diatas kertas. Mengukir indahnya hari. Aku berusaha menulis indah dengan tinta yang kumiliki. Ia pun mempercayakan kertas-kertas yang ia miliki untuk kutuliskan khayalan-khayalan yang menari-nari indah di benakku.
Kala ragu mengusik, meski segenap tanya tak terjawab, ketika aku mulai mengingat dongeng indah tentang kertas dan pulpen yang ia ceritakan, keraguan itu dapat ku tepis dengan senyum mengembang di wajahku. Aku tau kertas-kertas yang dimilikinya membuat dongeng-dongeng indah yang menari di imajiku terlihat semakin nyata di depan mataku. Kembali bersenandung riang sembari menggoreskan mimpi berbalut asa di lembar demi lembar kertas itu. Penuh, rapi dan tanpa celah sedikitpun. Karenanya, aku mulai bermimpi. Lagi.
Masih ingat kertas dan pulpen ?
Aku hanya ingin kamu menulis imajimu dengan kertas-kertas yang ku miliki.
Sampai tinta pulpen yang kamu miliki habis dan kertas-kertas yang kumiliki habis tak memiliki celah untuk ditulis.
Dengan begitu tidak ada yang meninggalkan ataupun yang ditinggalkan.
Tetap seperti itu. Selamanya.
Pulpen itu tidak akan menulis di lembaran kertas lain, begitu juga kertas-kertas itu, tidak akan bisa ditulis oleh pulpen lain. Tetap seperti itu.
p.s : uhukk udah lama ga nulis yang kayak beginian. aku terharu hhi :')
0 komentar:
Posting Komentar